Mencegah Akibat atau Mencegah Sebab?
28 September 2010
Beberapa hari ini, beberapa kali, beberapa berita… Tsah! Bahasanya. ;p Oke. Berita terakhir ini menyangkut seks bebas di kalangan remaja sepertinya lebih cenderung ‘menyetujui’. Helda terpancing untuk ngebahas inih ketika ngebaca salah satu artikel di Detik.com berjudul “Dokter Tidak Boleh Menolak Remaja yang ingin KB“. [Dan pernah juga sering ngelihat kampanye penggunaan kondom yang lebih memberikan keleluasaan melakukan hubungan seks].
Heran aja, eh, ngga heran juga sih. Zaman sekarang inih, orang-orang jadi ngelumrahin seks bebas di kalangan remaja. Buah simalakama. Oke, memang yang susah dibilangin ituh yah para remaja, ngga terkecuali Helda. Tapi, bisa ngga sih wahai semuanya - untuk tidak menuruti semua maunya remaja?
Actually, kalo menurut Helda, seks bebas ituh jangan hanya diliat dampak negatifnya berdasarkan secara fisik ajah. Contoh: kehamilan, penyakit menular seksual, dsb. Namun, lebih ke dampak psikologisnya yang mengubah cara pandang seseorang (baca:remaja) terhadap yang namanya seks.
Kadang Helda mikir gini: Kalu seks sebelum nikah, sah-sah ajah, buat apa lagi ada pernikahan coba? Lagian, seks bisa menunggu!
Jadi intinya, lebih baik mencegah sebab daripada mencegah akibat. Kalo udah namanya mencegah sebabnya, pasti akibatnya ngga akan muncul. Tapi, kalo mencegah akibat, kita udah melakukan sebab - yang akhirnya bisa berAKIBAT. ;p #maksabanget
PS: Miris gue nonton berita tadi pagi: tes keperawanan pada waktu penerimaan siswa.






Nopember 29th, 2010 at 15:47
sumapah gw terharu…,ga tw kenapa.
gw pengen kenal sma lo helda….
gw ngerasa udah dibuka pikirannya sama lo….
[Reply]